Rabu, 24 Agustus 2016

KAWAN

Kawan....
Kutahu hari ini, dirimu akan menjalani operasi...
Ingin rasanya menyemangati langsung, dan memberikan dukungan agar dirimu lebih kuat dan tegar.

Tapi,aku tahu....
Bagimu, ada dan tanpa adanya akupun sama saja....
Iya,aku bukan siapa-siapa, hanya seorang kawan yang dikenal sebentar dan akan dilupakan dalam beberapa waktu ke depan.

Kawan,..
Do'a ku menyertai proses pengobatanmu...
Mungkin pengobatan ini berat bagimu...
Tapi aku percaya...
Dirimu memiliki jiwa yang tegar, hati yang kuat dan pikiran yang positif.
Yang dengan itu semua, dirimu akan bisa menjalaninya dan kembali sembuh seperti semula.

Kawan,...
Mungkin engkau pernah menyakiti hatiku,
Mungkin engkau pernah mengecewakan ku,
Tapi, aku percaya sama rencana Allah, Allah akan menggantikan semua rasa sakit dan kecewa ini dengan rasa bahagia yang tak terkira karena seperti yang dirimu bilang "Rencana Allah lebih indah dari rencana kita".

Sekali lagi,
Semangat kawan,
Semangat!!!

Maafkan kalau diriku berlebihan akan sesuatu,...
tapi semuanya kulakukan agar ukhuwah ini tetap tejaga dan tetap terbina...
karena sekali lagi aku percaya dirimu adalah orang yang baik,..
yang dengan pengenalan ini Allah bermaksud agar kita saling mengambil pelajaran atas semua yang terjadi.

KEEP SMILE AND BE HAPPY :D :D :D

*tulisan ini didedikasikan untuk seorang teman yang hari ini akan menjalani operasi besar, yang mungkin dia tidak akan membacanya tapi insya Allah,maksud dan tujuan tulisan ini akan sampai padanya.

Selasa, 23 Agustus 2016

MENCINTAI SEJANTAN ALI


MENCINTAI SEJANTAN ALI

Oleh Ustadz Salim A Fillah

‘Ali pun menghadap Sang Nabi, maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.

Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantinya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. “Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggung jawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamaran berjawab, “Ahlan wa sahlan!”. Kata itu meluncur tenang bersama senyum sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabipun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko.

Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

“Entahlah..”

“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

“Satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wasahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ‘Alipun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ‘Ali adalah gentlemen sejati. Tidak heran jika pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tidak ada pemuda kecuali ‘Ali.”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah Pengorbanan. Yang kedua adalah Keberanian. Dan bagi pecinta sejati, selalu ada yang manis dalam mengecap keduanya. Di jalan cinta para pejuang, kita belajar bertanggung jawab atas setiap perasaan kita…

Kamis, 18 Agustus 2016

MANUSIA, UJIAN DAN KENIKMATAN

Kadang-kadang kita perlu berpikir panjang tentang segala hal yang pernah terjadi dalam hidup kita.

Kita adalah manusia dengan segala prasangka dan praduga.
Kita tidak pernah tahu kenapa itu terjadi dan kenapa harus terjadi pada kita, bukan orang lain?

Dulu, puluhan tahun yang lalu ketika saya harus menghadapi ujian yang menurut saya seharusnya tidak dihadapi oleh seorang anak kecil berusia 9 tahun... saya beranggapan Allah tidak adil (Astagfirullah...ampuni aku ya Allah)

Saat itu, saya harus merelakan masa kanak-kanak saya dengan kesedihan,kekurangan, kekecewaan, kekhawatiran,ketakutan dan tanda tanya yang saya rasakan selama berpuluh2 tahun sepanjang kehidupan ini.

Mungkin saat itu yang ada dipikiran saya, saya hanya ingin lari....lari...dan lari sejauh2nya (untung saat itu film2 di tv blm ada yang ngajarin bunuh diri, coba kalau ada bisa bahaya).

Namun, sampai di suatu titik trauma itu muncul dari diri saya tanpa saya sadari. Trauma berupa melarikan secara tidak langsung, yaitu tidak sadar dengan dunia secara semi (pingsan tetapi tetap mendengar keadaan sekitar).

Orang sekitar saya mengira saya mengidap suatu penyakit karena kondisi yang sering tidak sadar tersebut, namun dokter syaraf melalui MRI telah membuktikan bahwa fisik saya sehat.

Dan saran beliau saya hanya perlu berbahagia, tersenyum dan tenang dalam menghadapi segala hal,insya Allah, ketidaksadaran itu akan berkurang.

Dan benar, saya merubah diri saya secara perlahan-lahan....
Dari pendiam menjadi orang yang pencerita,...
Dari pemurung menjadi orang yang ceria dan selalu berusaha tersenyum...
Dari cuek menjadi orang yang peduli dan berusaha menyebarkan kasih sayang ke semua orang yang saya kenal....
Dari penakut menjadi pemberani...
Dari tidak tahu agama menjadi oramg yang berusaha mempelajari agama sedikit demi sedikit sehingga mulai berhijrah untuk memperbaiki diri lebih baik.

Mungkin masih banyak kekurangan lain yang akhir nya bermunculan, namun saya akan selalu berusaha memperbaiki diri, agar dapat membahagiakan keluarga dan orang di sekitar saya sehingga kami bisa bertemu dengan bahagia di surga Allah.

Jadi,ingatlah kawan.....
Ujian itu bukan untuk ditangisi tapi untuk di cari hikmahnya yang mungkin baru kita temukan sebulan, setahun atau bahkan puluhan tahun kemudian...

Jangan pernah menyerah dengan keadaan, karena semua itu datang dari Allah. Dan semua yang kita hadapi, ubahlah menjadi kenikmatan untuk bisa dekat dengan Allah. Karena semakin besar masalah kita pasti kita akan semakin berusaha untuk mendekatkan diri kepada Nya (itulah fitrah manusia).

Dan kedekatan dengan Allah adalah kenikmatan yang sesungguhnya yang tidak akan pernah bisa diganti dengan apapun juga...:D :D : D

Senin, 15 Agustus 2016

ADA yang DATANG, ADA PULA yang PERGI

Ada yang datang dan adapula yang pergi... itulah kehidupan.

Namun,...
Kita manusia diberi segala rasa dengan segala ketidaksiapannya.

Ketika ada yang datang,
Kita bahagia,...
Kita senang,...
Dan merasa orang itu adalah orang terbaik yang diberikan Allah untuk kita.

Namun,....
Ketika orang itu pergi...
Ketika orang itu menghilang...
Dengan meninggalkan segala kenangannya....
Dengan menyisakan rasa yang telah terlanjur tumbuh....

Maka,...
Kita sedih...
Kita terjatuh...
Kita terpuruk...
Dan ingin waktu terulang kembali,...
waktu dimana orang itu tidak pernah datang...
Waktu dimana kita dan dia tidak saling mengenal....
Dan waktu dimana belum ada rasa harap dan rasa kecewa yang datang...

Namun...
Ingatlah....
Bahwa waktu tidak akan pernah berulang....
Orang itu sudah terlanjur datang...
Rasa itu sudah terlanjur ada...
Dan kenangan itu sudah terlanjur terpatri dalam memori kita....

Hanya satu yang bisa kita lakukan
Yaitu...
MENERIMA...
Menerima semuanya dengan lapang dada...
Menerima semuanya dengan bahagia..
Menerima semuanya dengan hati yang ikhlas...
Menerima semuanya dengan rasa syukur....
Dan menerima semuanya dengan sabar tak terbatas...

Insya Allah...
Semua akan kembali menjadi baik...
Semua akan kembali menjadi tenang...
Semua akan kembali menjadi bahagia...
Dan...
Kita tumbuh menjadi manusia baru yang lebih kuat, lebih tegar dan lebih bersyukur....

LEPASKANLAH....

Lepaskanlah, semoga yang lebih baik akan datang.... Lepaskanlah, semoga suasana hati lebih ringan....(Tere liye)

Lepaskanlah....lepaskanlah....
Insya Allah semua akan lebih baik :D :D :D

Sabtu, 06 Agustus 2016

HATI MANUSIA TIDAK BISA DIMATEMATIKAKAN

"Hati manusia tidak bisa dimatematikakan"

Sepertinya ungkapan itu benar adanya,kita tidak bisa menghitung berapa besar cinta dan kasih sayang seseorang terhadap kita dan begitu pula sebaliknya kita tidak bisa menghitung seberapa besar cinta dan kasih sayang kita untuk orang lain.

Perasaan itu tidak bisa dinyatakan dalam bilangan riil,  bilangan bulat, bilangan asli, bilangan cacah, bilangan komplek, pecahan, bahkan dalam persenpun tidak bisa. Sehingga tidak ada cara apapun untuk kita bisa menambah, mengurangi, mengali atau membagi rasa tersebut.

Jadi, biarkan saja semuanya mengalir apa adanya, jangan dipaksa, jangan ditahan, dan jangan pungkiri...:D :D :D

Rabu, 03 Agustus 2016

MANAJEMEN HATI

Allah telah menitipkan hati ini dengan segala kompleksitasnya. Dengan segala penyakit fisik maupun psikis yang kadang-kadang tanpa kita sadari terus menggerogoti kebersihan dan kesehatannya.

Hati, dengan segala kelebihannya ternyata dia juga punya banyak kekurangan.

Hati ini gampang tergoda dengan bujuk rayu setan...
Hati ini gampang  sombong dengan segala pujian yang ada...
Hati ini gampang terbuai dengan segala gombalan manusia...
Dan hati ini gampang terjangkit penyakit hati dengan berbagai macam virus yang ada di dunia...

Cara agar hati ini tetap terjaga kebersihan dan kualitas keimanannya adalah dengan "Manajemen Hati".

Manajemen di sini yaitu dengan cara terus berzikir kepada Allah, berpikiran positif, menerima dengan ikhlas segala apa yang terjadi, serta tidak mudah terhasut dengan segala rayuan dan bisikan setan. Sehingga dengan manajemen hati ini kita dapat:

1. Mengelola cinta yang datang belum pada waktunya sehingga tidak terjerumus kepada yang namanya aktifitas pacaran, berkhalwat, HTS, ataupun hubungan tidak jelas lainnya.

2 . Mengelola munculnya penyakit hati terhadap sesama manusia sehingga hubungan kita terhadap manusia tetap terjaga.

3. Mengelola rasa patah hati atau sakit hati kita terhadap orang lain dengan cepat sehingga kita dapat memaafkan mereka yang berbuat kesalahan kepada kita dengan lapang dada dan ikhlas sehingga ikatan ukhuwah akan selalu terjaga.

Semoga kita selalu menjadi orang yang selalu bermanfaat bagi orang lain...

Semoga kita selalu menjadi orang yang selalu membahagiakan orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita...

Semoga kita selalu menjadi orang yang selalu ditunggu kehadirannya oleh orang-orang disekitar kita...

Dan
Semoga kita selalu menjadi orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat...

Keep Istiqomah :D:D:D

Semoga bermanfaat :):):)